4 Hal Jarang yang Tahu tentang Hijaiyah (bag. 1)
Sejak kecil, di sekolah, atau di TPA, atau bahkan sejak kita balita mungkin kita sudah terbiasa diperdengarkan alif baa taa oleh para orang tua kita. Atau untuk Anda yang saat ini sudah berperan sebagai orang tua, mungkin gambar berikut ini juga menghiasi dinding Anda.
Umumnya kaum muslimin sudah mengenal huruf hijaiyah. Hanya saja ada beberapa detail yang sebenarnya jarang orang ketahui tentang huruf hijaiyah. Secara ringkas, poin-poin yang jarang diketahui orang terkait huruf hijaiyah adalah :
- cara menuliskan satu huruf hijaiyah
- pada asalnya, huruf hijaiyah tanpa titik dan tanpa harokat
- huruf hijaiyah bisa ditulis dengan ragam gaya tulis yang berbeda / khat
- "Huruf" adalah istilah yang digunakan untuk merujuk huruf dan kata
Mari sejenak kita simak satu demi satu runut penjelasan keempat poin di atas.
Cara Menuliskan Satu Huruf Hijaiyah
Huruf hijaiyah, jika ditulis per satuan hurufnya dan dinukil dalam satu teks, maka cara menulisnya menjadi :
الألف = أ
الباء = ب
التاء = ت
الثاء = ث
الجيم = ج
الحاء = ح
الخاء = خ
الدال = د
الذال = ذ
الراء = ر
الزاي = ز
السين = س
الشين = ش
الصاد = ص
الضاد = ض
الطاء = ط
الظاء = ظ
العين = ع
الغين = غ
dan seterusnya sampai huruf yaa
Dan kita bisa lihat contoh prakteknya, di tulisan sang legend-nya ilmu nahwu : imam Shinhaji ketika menyebut huruf qosam (sumpah) dalam kitab Jurumiyah-nya, beliau menyebutkan :
و هي الواو والباء والتاء
"dan huruf-huruf qosam (yang digunakan untuk kalimat sumpah) itu adalah wawu, ba dan ta
Dan beliau tidak berkata :
و هي و و ب و ت
Huruf و kita tuliskan sebagai الواو seperti pada perkataan imam Shinhaji di atas, jika konteksnya ia dinukil dengan posisinya sebagai huruf, sama misalnya ketika kita dalam bahasa inggris menukilkan misalnya alfabet "A", kita berikan tanda kutip untuk mempertegas bahwa konteks yang kita inginkan adalah menuliskan huruf abjad. Namun manakala "A" digunakan dalam konteks kalimat, misal kita katakan : I buy a book. Maka di sini tidak kita gunakan kutip.
Demikan pula lafal الواو (wawu) dalam perkataan Shinhaji di atas, konteksnya adalah dinukilkan sebagai huruf hijaiyah. Beliau tidak menyebut و saja. Namun manakala lafal الواو tersebut sudah kita gunakan sebagai bagian dari satu kesatuan kalimat, maka kita bisa lihat contoh-contoh berikut :
و العصر
"Demi masa" (QS Al-ashr:1)
و الشمس
"Demi matahari" (QS asy-syams:1)
و الله
"Demi Allah"
Kita bisa lihat dan perhatikan bahwa pada lafal-lafal di atas, huruf و merupakan satu kata tersendiri yang disebut huruf qasam yang digunakan dalam kalimat sumpah, lafal wawu nya tidak dituliskan الواو , berbeda dengan penggunaan imam Shinhaji di atas.
Untuk poin selanjutnya, terkait tanpa titik dan tanpa harokat, bersambung ke bagian ke-2.


Komentar
Posting Komentar