4 HAL JARANG YANG TAHU TENTANG HIJAIYAH (BAG. 2)
Artikel ini adalah lanjutan seri ke dua dari tulisan sebelumnya. As a disclaimer, bahwa ketika saya sedang menyusun tulisan untuk poin kedua ini, saya menemukan tulisan yang lebih bagus dan lebih mencukupi, karena itu di poin ini saya cukupkan nukilan artikel dari pemilik tulisan aslinya untuk melengkapi serial 4 hal tentang hijaiyah ini.
Tulisan di bawah ini adalah milik al-ustadz Hasan Saggaf -semoga Allah membalasnya dengan kebaikan- :
Huruf Hijaiyah : Tanpa Titik, Tanpa Harokat
Al-Qur’an turun bukan dalam bentuk teks atau tulisan. Ia turun dalam bentuk wahyu baik langsung atau melalui perantaraan Jibril as. Adapun penulisan Al-Qur’an dalam bentuk teks sudah dimulai sejak zaman Nabi saw, tapi sangat rare dan jarang didapatkan, karena pada zaman itu mereka kebanyakannya mengandalkan kepada hafalan bukan kepada tulisan. Kemudian sedikit demi sedikit mulai didapatkan perobahan Al-Qur’an dari hafalan ke tulisan dan perobahan Al-Qur’an menjadi teks terus dijumpai dan dilakukan sampai pada zaman khalifah Utsman bin Affan ra.
Semua orang mengetahui bahwa Al-Qur’an pada zaman Utsman bin Affan ra ditulis tanpa titik dan harakat seperti yang kita lihat sekarang ini. Namun, hal ini tidak mempengaruhi bacaan Al-Qur’an karena kaum muslimin pada saat itu adalah orang-orang yang fasih dalam bahasa Arab. Keadaan ini terus berlangsung hingga Islam mulai berkembang terus meluas ke wilayah di sekitar jazirah Arab, Asia, Afrika sampai ke Eropa.
Bersamaan dengan itu, orang-orang Islam non-arab (disebut ‘ajami) merasa kesulitan untuk membaca Al-Qur’an yang pada waktu itu ditulis tanpa titik dan harakah.
Kejadian ini diawali dari cerita Abu al-Aswad Ad-duwali yang hidup di zaman Muawiyah bin Abi Sufyan mendengar seseorang membaca satu ayat Al-Qur’an dalam surat At-Taubah ayat 3, yang berbunyi:
أَنَّ اللَّهَ بَرِيءٌ مِّنَ الْمُشْرِكِينَ وَرَسُولُهُ
(Innallaaha bariiun min al-musyrikiina wa rasuuluhu)
Artinya: “Sesungguhnya Allah dan RasulNya berlepas diri dari orang-orang musyrikin”.
Pada lafadz “Rasuluhu” (di baca dengan rafa’ atau dommah). Tapi, karena tidak ada harakah orang ‘ajam tersebut membacanya dengan:
“Innallaaha bariiun min al-musyrikiina wa rasuulihi”. Pada lafadz “Rasuluhu” dibaca rasuulihi (dibaca dengan kasrah)
Mendengar bacaan tersebut Abu Al-Aswad terkejut, lalu mengucap: ”Allahu Akbar, ini musibah besar, bagaimana mungkin Allah berlepas diri dari RasulNya!..
Setelah itu ia langsung berfikir dan berfikir untuk mencari solusi guna menjaga keutuhan Al-Qur’an,
Oleh karena itu, Abul Al-Aswad Ad-duwali mejadi sosok sangat penting bagi muslimin yang pertama berkiprah guna menjaga keutuhan al-Qur’an. Dialah yang menemukan kaidah tata bahasa Arab (Nahwu), salah satunya kaidah pemberian harakat. Harkat yang diciptakan oleh Abu al-Aswad ini lalu disempurnakan lagi oleh muridnya Kholil bin Ahmad al-Bashri (2) pada masa dinasti Abbasiyah, hingga menjadi bentuk harakat seperti yang ada sekarang.
Adapun titik yang terdapat pada huruf ba’, ta’, tsa’, ya, dan lain-lainnya, itu terjadi pada masa Abdul Malik bin Marwan. Dahulu huruf huruf tersebut tulisan dan bentuknya sama sehingga sulit bagi orang ’ajam (non-Arab) untuk membedakan mana yang ”ba”, mana yang ”ta”, mana yang ”tsh”, mana yang ”ya” mana yang ”nun” karena tidak bertitik. Lalu Abdul Malik bin Marwan memerintahkan Nashr bin Ashim (3) dan Yahya bin Ya’mur (4) menyelesaikan tugas tersebut. Untuk mencari jalan keluamya, mereka berdua lalu menyusun huruf huruf yang sama karakter dan bentuknya untuk membedakan bacaanya dengan memberikan titik titik dibawah atau diatas dengan mendahulukan urutannya
Diantaranya ada beberapa huruf yang karakter dan bentuknya sama sebelum diberi titik titik yaitu:
ba (ب) , ta (ت ) , tsa( ث ) , nun (نـ) , ya( يـ )
jim (ج ) , ha ( ح ) ,kha( خ )
dal( د ) , dzal ( ذ )
ra ( ر ) , za ( ز )
sin ( س ) , syin ( ش )
shat ( ص ) , dhat ( ض )
‘ain ( ع ) , ghain ( غ )
fa ( ف ) , qaf ( ق )
tha ( ط ) , dza ( ظ )
Ada juga huruf huruf yang bentuk dan karakternya berbeda yaitu selain huruf huruf tersebut diatas. Karena berbeda bentuk dan karekternya maka tidak diberi titik kecuali ”ha” marbuthah, yaitu:
alif, lam, mim, kaf, ha, dan waw أ ل م ك هـ و
Dalam penulisan titik huruf tersebut, Nashr dan Yahya menggunakan tinta yang warnanya sama dengan tinta yang digunakan untuk menulis mushaf, agar tidak serupa dengan tanda harakat yang digunakan oleh Abu al-Aswad Ad-duwali
Maka, sejak saat itulah mushaf Alqur’an mulai ada titik dan harakat pada huruf-hurufnya.
Wallahu’alam, Hasan Husen Assagaf
Sumber : https://hasanalsaggaf.wordpress.com/2014/05/10/huruf-arab/

Komentar
Posting Komentar