Catatan Ngaji Tashrif Kyai Afif (Bag. 1)
Berikut ini adalah catatan-catatan yang saya himpun dari kajian KH. Afifuddin Muhajir seputar pembacaan dan penjelasan kitab Kailani syarah untuk kitab Tashrif al-Izzi :
Definisi Tashrif Secara Bahasa
Tashrif secara bahasa artinya adalah taghyir / mengubah. Ketika kita mengubah motor menjadi becak, maka pada saat itulah terjadi proses tashrif secara bahasa.
Contoh penggunaan lafal tashrif dengan makna taghyir bisa ditemukan pada firman Allah :
اِنَّ فِيْ خَلْقِ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِ وَاخْتِلَافِ الَّيْلِ وَالنَّهَارِ وَالْفُلْكِ الَّتِيْ تَجْرِيْ فِى الْبَحْرِ بِمَا يَنْفَعُ النَّاسَ وَمَآ اَنْزَلَ اللّٰهُ مِنَ السَّمَاۤءِ مِنْ مَّاۤءٍ فَاَحْيَا بِهِ الْاَرْضَ بَعْدَ مَوْتِهَا وَبَثَّ فِيْهَا مِنْ كُلِّ دَاۤبَّةٍ ۖ وَّتَصْرِيْفِ الرِّيٰحِ وَالسَّحَابِ الْمُسَخَّرِ بَيْنَ السَّمَاۤءِ وَالْاَرْضِ لَاٰيٰتٍ لِّقَوْمٍ يَّعْقِلُوْنَ
"Sesungguhnya pada penciptaan langit dan bumi, pergantian malam dan siang, kapal yang berlayar di laut dengan (muatan) yang bermanfaat bagi manusia, apa yang diturunkan Allah dari langit berupa air, lalu dengan itu dihidupkan-Nya bumi setelah mati (kering), dan Dia tebarkan di dalamnya bermacam-macam binatang, dan perubahan angin (tashrifir riyah) dan awan yang dikendalikan antara langit dan bumi, (semua itu) sungguh, merupakan tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi orang-orang yang mengerti."
(QS. al-Baqoroh : 164)
Di ayat ini Allah menggunakan lafal tashrif dalam konteks taghyir / berubah. Maksudnya adalah : berubahnya angin dari satu kondisi tertentu ke kondisi yang lain, dan dari satu arah ke arah yang lain.
Definisi Tashrif Menurut Istilah
تَحْوِيْلُ الأَصْلِ الوَلحِدِ إِلَى أَمْثِلَةٍ مُخْتَلِفَةٍ لِمَعَانٍ مَقْصُوْدَةٍ لَا تَحْصُلُ إِلَّا بِهَا
Tashrif adalah perubahan asal kata atau kata dasar yang satu menjadi beberapa bentuk yang beragam karena untuk tercapainya makna-makna tujuan yang tidak bisa dicapai kecuali dengan bentuk tersebut.
Sebagai contoh di dalam bahasa indonesia adalah kata "pukul". Jika kita ingin memberikan makna pelaku perbuatan yang melakukan "pukul" maka kita menambahkan imbuhan pe + pukul menjadi pemukul. Dan jika kita ingin memberikan makna objek yang terkena perbuatan pukul, maka kita menambahkan imbuhan di menjadi yang "dipukul". Masing-masing makna yang dituju ini tidak bisa tercapai kecuali dengan perubahan bentuk berupa penambahan atribut-atribut tersebut.
Contoh di dalam bahasa arab lafal ضَرْبٌ / pukulan, jika kita ingin mencapai makna-makna yang lain, maka kita juga harus mengubah bentuk kosakata ضَرْبٌ tersebut.
Ragam perubahan pola dari lafal ضرب tersajikan dalam tabel berikut :
| Jenis Kata | Bentuk | Arti |
|---|---|---|
| Mashdar | ضَرْبٌ | Pukulan |
| Fi'il Madhi | ضَرَبَ | Telah memukul |
| Fi'il Mudhari | يَضْرِبُ | Sedang memukul / akan memukul |
| Fi'il Amr | اِضْرِبْ | Pukullah ! |
| Isim Fa'il | ضَارِبٌ | Orang yang memukul |
| Isim Maf'ul | مَضْرُوْبٌ | Orang yang dipukul |
| Isim Zaman | مَضْرَبٌ | Waktu terjadinya pukulan |
| Isim Makan | مَضْرَبٌ | Tempat terjadinya pukulan |
| Isim Alat | مِضْرَبٌ | Alat pukul |
Memahami Kata Dasar atau Asal Kata
Menurut madzhab bashrah : asal sebuah kata adalah mashdar. Sedangkan menurut madzhab kufah : asal sebuah kata adalah fi'il madhi.
KH. Afifuddin Muhajir cenderung kepada pendapat ulama yang menyatakan bahwa al-ashlu atau kata dasar atau asal sebuah kata adalah mashdar. Alasannya karena mashdar itu maknanya lebih pure, lebih sederhana. Sedangkan untuk fi'il madhi sudah ada makna tambahan bentuk waktu kepada inti dari perbuatannya. Dan karena mashdar ini yang lebih sederhana maka mashdar lebih layak disebut asal. Dan menurut beliau ini adalah pendapat yang mu'tamad.
Kesimpulan
- Asal sebuah kata adalah isim mashdar.
- Proses perubahan dari kata dasar / asal kata ke bentuk lain dengan pola tertentu sehingga menghasilkan makna-makna berbeda disebut dengan tashrif.

Komentar
Posting Komentar